Pengendali Elemen

Chapter 9: Pelatihan Keras

Setelah tertidur selama 3 jam, mereka pun memasuki sebuah area hutan yang gelap dan sebuah bangunan besar yang dikelilingi dinding beton serta gerbang besi.

Kemudian mereka sampai di depan gerbang bangunan dimana markas Guardian Star berada.

“Buka pintu gerbangnya” Teddy berteriak pada penjaga di pintu gerbang.

Suara bergemuruh pun terdengar dan pintu gerbang terbuka sedikit demi sedikit hingga terbuka lebar. Mendengar suara rusuh yang disebabkan hal tadi semua orang yang tidur terbangun.

“Sudah sampai ya?” Tanya Gina pada Teddy.

“Iya, disinilah markas kita sekarang” Jawab Teddy.

“Woahh,besar sekali markasnya” Gina serta Helena yang disampingnya terpukau melihat Markas didepan mereka.

Mobil mereka pun melaju kedalam markas dan berhenti ditempat parkir. Lalu mereka pun keluar dari mobil.

“Ayo kita masuk kedalam menemui pemimpin”

“iya”

Mereka berjalan beriringan menuju kedalam markas, mereka takjub saat melihat pelatihan para tentara disana. Tak lama kemudian mereka memasuki sebuah ruangan yang besar dan seorang pria tua berjenggot putih sedang melihat kearah layar besar yang menampilkan situasi diluar.

“Saat ini hanya para binatang dan manusia yang berevolusi, aku tidak tau apakah yang akan terjadi selanjutnya”

Pria tua itu mendengar langkah kaki dari belakang lalu dia pun berbalik. “Akhirnya , sampai juga kau Teddy”

“Sesuai perintah mu pak, keduanya telah bersedia bergabung dengan organisasi” Teddy berbicara dengan hormat dengan pria tua tersebut.

Pria tua itu hanya mengangguk puas akan kinerja Teddy lalu tatapan nya pun mengarah kepada Gina dan Helena “Perkenalkan namaku Genta , aku adalah Jenderal besar di sini dan mulai saat ini kalian akan menerima pelatihan yang keras untuk menghadapi berbagai ancaman. Apakah kalian siap?!!!” Jenderal Genta bertanya dengan tegas.

“Siap jenderal!!!” Jawab Gina dan Helena dengan serentak.

“Baiklah, silakan kalian pergi ketempat tinggal yang telah kami siapkan” Jenderal Genta pun berbalik dan kembali menatap layar besar.

“Kalian antarkan mereka ketempat tinggal yang telah disiapkan. Aku masih ada tugas yang perlu kuselesaikan” Kata Teddy memerintahkan kedua prajurit tentara yang berada disekitar.

“Siap letnan”

” Apakah kita akan bertemu lagi?” Tanya Gina.

“Entahlah. Sebaiknya, pikirkan saja apa yang akan kalian jalani setelah ini. Aku pamit” Teddy pun berjalan menjauh.

Kedua prajurit tentara tersebut mengantar kan Helena dan Gina serta adik dan ibu nya ke tempat tinggal mereka.

[Keesokan harinya]

Jam 8 pagi , Helena dan Gina sedang berjalan dikoridor menuju ke tempat latihan anggota Guardian Star. Mereka berjalan selama 15 menit dan akhirnya sampai ditempat latihan, sesampainya disana keduanya melihat 4 orang remaja sedang melakukan berbagai gerakan pemanasan.

Mereka berempat adalah anggota Guardian Star lainnya, yaitu 2 wanita kembar dengan wajah cantik berambut pirang nama mereka adalah Nina dan Nana lalu ada seorang pria berotot bernama Geovani dan yang terakhir seorang pria kurus berkacamata bernama Excel.

“Selamat pagi Semua” Sapa Helena dengan senyum indah.

“Pagi juga” jawab keempatnya tanpa memalingkan wajah.

“….” Helena dan Gina bisa menghela napas.

Keduanya pun hanya bisa duduk diam tak jauh dari mereka yang sedang olahraga.

Sekitar 10 menit kemudian seorang pria paruh baya botak memasuki ruangan tersebut dan semuanya pun berbaris.

“Baiklah, aku tidak ingin basa basi. Hari ini kita akan melaksanakan pelatihan untuk memperkuat tubuh dan yang pertama pasang baju pemberat 5kg ini dan berlarilah disekeliling ruangan ini sampai batas kalian” Setelah mengatakan itu bersandar di dinding sambil menyalakan rokok.

Kemudian keenam orang itu pun memakai baju pemberat tersebut dan mulai berlari kecil mengelilingi ruangan.

“Tap tap tap tap” Setiap hentakan kaki terasa berat saat mereka berlari kecil kecuali si pria berotot yang terlihat santai saja saat berlari.

“Gila, ini pelatihan neraka” Helena berguman pelan.

“Terus berjuang Helena” Gina menyemangati Helena walaupun dirinya sudah berkeringat deras.

Keenam orang Anggota Guardian Star terus berlari dan saat di awal putaran ketiga Helena jatuh ke lantai dan tidak bisa bangkit lagi karena saking lelahnya tak lama kemudian dia pun pingsan. Lalu di pertengahan putaran ketiga Excel dan Gina juga jatuh ke lantai dengan penuh keringat yang membasahi tubuh mereka lalu keduanya pun pingsan. Saat diputaran 4 Nina dan Nana mulai berlari sempoyongan dengan kedua lutut mulai bergetar.

“Gubrak” Keduanya bertabrakan dan terjatuh ke lantai tanpa ada tanda bangkit lagi(pingsan).

“Harus bisa , aku harus bisa memperkuat diri. Untuk menghancurkan para monster itu” Geovani berlari kecil hingga putaran keenam walaupun dia sudah pada batasnya.

“Aku harus-” Sebelum menyelesaikan kata-katanya Geovani pun ambruk dan pingsan ditempat.

Lengkap keenam Anggota Guardian Star pingsan dilantai ruangan tersebut dan sang instruktur pun memanggil medis untuk membawa mereka keruang kesehatan lalu dia pun pergi entah kemana.

[Siang hari diruang kesehatan]

Mereka pingsan sampai 5 jam dan akhirnya terbangun. Saat bangun mereka pun saling menatap namun tidak ada yang ingin memulai berbicara.

“tap…tap…tap…” Suara langkah kaki terdengar mendekat kearah ruang kesehatan.

Lalu masuklah seorang tentara kedalam ruang kesehatan.

“Kalian sudah sadar?? kalau begitu bergegaslah ke ruangan Jenderal, beliau ada sesuatu yang ingin disampaikan kepada kalian” Tentara tersebut memberitahukan mereka lalu pergi dari ruang kesehatan.

“Helena , bisakah kau berdiri?” Tanya Gina

“Akan kuusahakan” Jawab Helana

Lalu keduanya pun turun dari kasur dan mencoba berjalan. Saat mencoba berjalan keduanya hampir jatuh namun Geovani menahan keduanya.

“Terima kasih” Ucap keduanya.

“Sama-sama, lagipula kita adalah tim sekarang” Geovani tersenyum.

“Hei Geovani, bantu kami turun dari kasur” Nina meminta tolong.

“Oke” Lalu Geovani membantu Nina dan Nana turun dari kasur.

“Haha…hei Excel, apakah kau mau kubantu?” Tanya Geovani.

“Tidak , aku bisa sendiri” Excel turun dari kasur nya dan berdiri tegak.

“Ayo, Jenderal telah menunggu” Lanjut Excel yang berjalan keluar lebih dulu.

Mereka pun berjalan bersama menuju keruangan Jenderal Genta.

Setelah 5 menit berjalan mereka pun sampai diruangan yang penuh monitor yang isinya siaran serangan para binatang mutasi dan mereka melihat Jenderal sedang menatap monitor sangat cemas.

“Lapor jenderal, kami sudah sampai” Geovani melapor.

Jenderal Genta berbalik dan menatap keenam orang didepannya.

“Baiklah, aku ingin kalian melatih kekuatan yang kalian miliki selama seminggu penuh disertai latihan fisik dan sedikit bela diri, ini informasi tentang kalian semua pelajarilah kekuatan rekan mu dan atur formasi bertempur kalian karena setelah seminggu kalian akan dikirim untuk membunuh para binatang mutasi” Jenderal Genta menjelaskan panjang lebar lalu menyerahkan sebuah kertas informasi kekuatan mereka kepada Geovani.

“Apakah kalian paham?” Lanjut Jenderal.

“Paham Jenderal” Jawab mereka dengan serentak.

“Baiklah, silakan kembali dan pelajari informasi kalian” Jenderal berbalik dan menatap monitor lagi.

Sedangkan keenam anggota Guardian Star keluar dari ruang tersebut dan berjalan ke ruang makan.

Sesampainya disana mereka pun berkumpul dan melihat informasi masing-masing.

———————————–
Nama: Geovani

Umur : 24 tahun

Kekuatan : Merubah seluruh tubuh menjadi besi.

———————————–
Nama: Excel

Umur: 19 tahun

Kekuatan: Menghilang dan bisa menumbuhkan pisau tajam dari tulang di tangannya.

———————————–
Nama: Nina

Umur : 17 tahun

Kekuatan: Bisa Bertelapati dengan saudari kembarnya, Pukulan Super

———————————-
Nama: Nana

Umur: 17 tahun

Kekuatan: Bisa Bertelepati dengan saudari kembarnya, Tendangan Super

———————————-
Nama: Helena

Umur: 21 tahun

Kekuatan: Penyembuhan

———————————-
Nama: Gina

Umur: 22 tahun

Kekuatan: Memanipulasi Es

———————————-

Mereka pun saling memandang setelah mengetahui kekuatan masing-masing, apalagi para wanita menatap tajam Excel saat mengetahui kekuatannya.

“Kenapa dengan kalian menatapku seperti itu?” Tanya Excel sedikit gemetar.

“Oh, tidak apa tapi jika kau mencoba mengintip kami dengan memakai kekuatanmu itu maka kamu akan kehilangan masa depanmu” Ucap Nina dengan wajah seram.

Excel dan Geovani bergidik saat mendengar kata-kata Nina.

“Tenang saja, aku tidak akan menggunakan kekuatanku untuk hal seperti itu” Ucap Excel yang berkeringat dingin.

“Sudahlah, lebih baik membahas bagaimana kita melatih kekuatan kita dan formasi pertempuran kita?” Nana yang diam dari tadi pun berbicara.

“Sepertinya dari kekuatan kita , sudah bisa ditentukan formasinya” Helena meneliti formasi yang cocok.

“Geovani bagian menahan serangan binatang mutasi, lalu Nina dan Nana dibagian penyerang , lalu Excel bisa juga jadi penyerang atau juga bisa dibelakang melindungi ku dan Gina yang membantu dibelakang penahan dan penyerang. Itu saja yang kurasa cocok ” Ucap Helena sedikit gugup.

Semuanya diam sambil memikirkan pemikiran Helena.

“Kurasa itu lumayan bagus” Gina menyetujui pemikiran tersebut.

“Aku dan adikku tidak keberatan” Nina dan Nana mengangguk setuju.

“Ya, kurasa pria kuat harus didepan” Geovani narsis.

“Ehem…melindungi wanita cantik sudah menjadi tugasku” Excel tersenyum genit.

“ishh…” Para wanita menarik bangku menjauh dari Excel.

“Hahaha….baiklah kalau begitu. Sekarang kita mengisi perut dulu”

Mereka pun berjalan kearah chef didapur dan memesan makanan dan minuman lalu kembali ke meja mereka .

Setelah 15 menit makanan mereka pun diantar ke meja dan mulai makan. Selesai makan mereka pun kembali ke tempat masing-masing.

[Tempat kos Dwyan]

Dwyan sedang membereskan pakaian dan perbekalan bertahan hidup kedalam tas besarnya.

“Hah…lelahnya” Dwyan memasukkan minuman terakhir kedalam tasnya.

Dwyan melihat jam dinding yang sedang menunjukkan jam 13:29 .

“Aku harus cepat menuju desa untuk melindungi orang tua ku” Dwyan menyandang tasnya lalu keluar kamar kosnya.

Kemudian dia berjalan menuju motor maticnya dan mendorongnya keluar area kos menuju abang-abang jualan bensin.

“Bang, beli bensin 2 liter” Dwyan membuka jok motornya dan membuka tutup penampung bensinnya.

“Oke bro” Lalu abang tersebut menuangkan bensin kedalam penampung bensin dimotor Dwyan.

“Nih bang uangnya, kembaliannya buat abang aja” Dwyan menyerahkan uang 20 ribu.

“Terima kasih bro”

“Sama-sama” Dwyan pun menutup kembali tutup penampung bensin serta jok motor
nya.

Lalu dia pun menghidupkan motornya dan memulai perjalanan menuju kampung halamannya…..

Pengendali Elemen

Chapter 8: Perekrutan Anggota Guardian Star

Dwyan perlahan bangkit dan berjalan dengan pelan menuju tempat kos nya dengan perlahan.

~15 menit kemudian~

Dwyan berhasil sampai ke tempat kos nya dengan selamat kali ini dan dia pun bergegas mandi untuk membersihkan tubuhnya yang penuh darah setelah itu dia pun berpakaian bersih dan pergi ke tempat tidur lalu tak lama kemudian dia pun tertidur dengan pulas di kasur nya.

{Rumah Gina}

Gina baru saja sampai dirumahnya, dia tinggal diperumahan bersama ibu dan seorang adik laki-laki berumur 10 tahun sedangkan ayah nya telah tiada karena serangan jantung. Gina bekerja hanya untuk kebahagian ibu dan adiknya.

Saat ini Gina serta ibu dan adiknya sedang berkumpul diruang tamu sambil menonton tv.

“Gina, pekerjaan mu hari ini bagaimana?” Tanya ibu nya Gina yang bernama Lastri.

“Hari ini ada serangan Elang raksasa tidak jauh dari kafe bu, jadi bos membiarkan aku dan pegawai lain pulang lebih awal” Jawab Gina dengan lembut. Sifat Gina dirumah sangat bertentangan saat dia bekerja di kafe, dia dirumah sangatlah lembut dan penuh perhatian dengan keluarganya sedangkan ditempat kerja kebalikannya walaupun hanya kepada orang tertentu contohnya Dwyan.

“Kamu baik-baik saja kan ? Besok kamu dirumah aja ya, saat ini sangat berbahaya diluar” Ucap Ibu Lastri dengan khawatir.

“Iya ibu, kafe juga gak akan dibuka kok sampai situasi aman” Gina menjelaskan lalu senyuman sambil menggenggam tangan ibunya dengan lembut.

“Syukurlah kalau begitu” Ibu Lastri menghela napas lega.

Setelah itu mereka pun berbincang berbagai hal lain sambil menatap layar tv.

“Diberitahukan untuk seluruh warga indonesia, dimohon agar tidak keluar rumah saat ini dikarenakan banyak nya binatang yang telah bermutasi . Mereka sangatlah berbahaya dan mereka telah membantai manusia tak terhitung jumlahnya, jadi sekali lagi diharap tetap dirumah. Sekian breaking news siang ini” Layar tv pun setelah itu tidak ada gambarnya dan digantikan layar yang penuh titik putih serta suara yang mengganggu.

“Leo matikan tv nya ” Ucap Ibu Lastri kepada anak laki-lakinya yang bernama Leo.

“Iya bu” Leo berjalan kearah tv dan menekan tombol powernya.

“Situasi saat ini semakin kacau” Guman Gina saat memandang keluar jendela.

“Hm…tunggu dulu, kenapa pemerintah tidak menyediakan tempat berlindung untuk masyarakat di daerah militer? ” pikir Gina.

“Nak, apa yang sedang kamu pikirkan?” tanya Ibu Lastri.

“Aku hanya berpikir, kenapa pemerintah tidak menyediakan tempat berlindung untuk masyarakat di daerah militer?” Jawab Gina

“Jika ada tempat berlindung keamanan kita sedikit terjamin dengan adanya militer negara” Sambung Gina dengan wajah marah.

“Iya juga ya, mungkin karena bencana yang disebabkan binantang mutasi tidak hanya ada di satu daerah saja namun di seluruh daerah di indonesia jadi besar kemungkinan pemerintah sedang sibuk mengurus daerah yang sangat besar ancaman bagi masyarakat disana” Ibu Lastri menjelaskan dengan panjang lebar kepada Gina.

Wajah marah Gina pun hilang dan digantikan senyum tipis.

“Aku harap pemerintah dengan cepat mengambil tindakan” Ucap Gina.

Setelah itu Gina berjalan menuju kamarnya lalu masuk ke kamarnya.

“Gina…” Ibu Lastri memandang Gina dengan cemas.

Dia sudah mengetahui bahwa anaknya itu membangkitkan kekuatan dan dia juga tau ambisinya yaitu untuk menyelamatkan orang yang lemah jadi dia khawatir suatu saat nanti dia akan terluka akan tindakan nya itu.


Waktu telah menunjukkan jam 9 malam, keadaan disekitar kota sunyi senyap dan hanya beberapa binatang mutasi yang berkeliaran mencari mangsa.

[Dirumah Helena]

Helena sedang duduk di sofa sambil melihat majalah fashion. Dia tinggal sendirian disebuah apartemen yang lumayan mewah peninggalan orang tuanya.

“Kejadian tadi sedikit mengguncangku” Guman Helena saat mengingat serangan Elang tadi.

“Ding dong” Saat dia mengingat kejadian tersebut Bel pintunya berbunyi lalu dia pun berdiri.

“Tap tap tap” Helena berjalan kearah pintu.

“Siapa ya?” Tanya Helena.

“Ini paman Helena” Ucap Pria diluar pintu yang ternyata adalah Bos Teddy.

“Iya, tunggu sebentar” Jawab Helena. Lalu dia pun mengambil kunci yang digantung tidak jauh dari pintu lalu memasukkan kunci kelubang kunci dan memutarnya.

“Klak…Sreet” Pintu terbuka dan Helena pun memandang Bos Teddy dengan heran.

[Setelah ini kata “Bos Teddy akan diganti dengan Teddy saja]

“Silakan masuk dulu” Helena mempersilakan Bos Teddy masuk.

“Iya” Teddy pun masuk kedalam.

Helena pun menutup pintu lalu kedua berjalan menuju Sofa dan duduk berseberangan.

“Ada apa ya paman berkunjung ke tempat ku malam-malam gini?” Tanya Helena.

” Ada sesuatu yang ingin paman bicarakan padamu Helena” Jawab Teddy dengan serius.

“Bicarakanlah” Ucap Helena.

“Jadi begini aku kesini berniat untuk merekrut kamu masuk kesebuah pasukan khusus untuk melawan binatang mutasi yang dinamakan Guardian Star. Pasukan khusus ini telah mendapat persetujuan dari president kita dan bayaran nya pun besar, jadi apakah kamu ingin bergabung?” Ucap Teddy sambil memandang lurus kearah Helena.

“Hm…Aku sebenarnya takut untuk menghadapi para binatang mutasi” Ucap Helena sambil menundukkan kepalanya.

“Tapi Helena ini untuk melindungi banyak masyarakat dan membuat mereka aman serta tiada anak-anak yang terlantar tanpa orang tua dikarenakan bencana ini” Teddy berbicara sedikit keras.

Helena tertegun saat mendengar kata ” tiada anak-anak yang terlantar tanpa orang tua” dan dia pun mengepalkan tangannya karena dia juga tidak ingin anak-anak tersebut merasakan hal itu, karena dia merasakan tidak memiliki orang tua sejak berumur 9 tahun, kedua orang tua nya menghilang tanpa jejak saat pergi keluar negri untuk urusan bisnis dan dia saat itu tinggal bersama pamannya Teddy.

“Hah…paman, aku akan ikut pasukan khusus ini” Ucap Helena dengan tegas.

“Baguslah kalau begitu”

“Baiklah, cepat kemasi barang-barang mu lalu kita akan berangkat menjemput satu orang lagi dan pergi ke markas.” Ucap Teddy.

Setelah itu Helena pun menyiapkan dua buah koper besar dan memasukkan beberapa pakaiannya serta barang-barang penting lainnya kedalam koper.

30 menit kemudian, Helena telah selesai berkemas lalu dia dan Teddy pun berjalan keluar tanpa lupa mengunci pintu apartemennya. Setelah keluar dari sana dihalaman bangunan apartemen telah terparkir 3 buah mobil lapis baja dan terdapat 6 pasukan prajurit bersenjata berdiri disana.

” Ayo kita pergi ketempat selanjutnya” Ucap Teddy kepada keenam prajurit tersebut.

“Siap Komandan” Jawab keenam tentara dengan serentak.

Setelah memasukan kedua koper kebagasi mobil, Helena dan Teddy pun masuk kedalam mobil tersebut dan para pasukan prajurit tentara masuk kemobil masing-masing. Lalu ketiga mobil tersebut melaju meninggalkan bangunan apartemen dengan segera.

{ 30 menit kemudian}

Ketiga mobil lapis baja pun telah memasuki kawasan perumahan dikota Bandung dan menuju salah satu rumah disana. Selama perjalanan terbilang cukup aman karena dilindungi oleh para pasukan tentara yang selalu siaga ketika ada bahaya dan juga mobil lapis baja yang bisa menahan serangan binatang mutasi.

“Paman kita akan menemui siapa?” Tanya Helena.

“Hehe… Nanti juga kamu tau” Jawab Teddy sedikit misterius.

“Sudahlah kalau gak mau memberitau” Ucap Helena ketus.

Tak lama kemudian ketiga mobil pun berhenti dihalaman sebuah rumah lalu mereka berdua pun turun dan para pasukan berjaga disekitar mobil.

Kedua berjalan kearah rumah tersebut dan ketika berdiri di depan pintu rumah Teddy pun memencet tombol bel.

“Tolalet tolalet tolaletlalet” Suara bel pintu pun terdengar kedalam rumah.

“Astaga, ini bel rumah atau apaan dah?” Teddy sedikit kaget mendengar suara bel.

“Iya tunggu” Suara seorang wanita pun terdengar dari dalam.

“klik..klik..sreet” Pintu pun terbuka dan seorang wanita berdiri didalam.

“Apakah Gina ada dirumah?” Tanya Teddy pada wanita di depannya yang tak lain adalah ibunya Gina yaitu Lastri.

“Eh..Ini rumahnya Gina, jd paman akan merekrut Gina juga ya” Ucap Helena dalam hati.

“Ada kok, kalian masuk dulu kedalam diluar tidak aman” Ucap Ibu Lastri mempersilakan keduanya masuk kedalam rumah.

Lalu ibu Lastri mempersilakan keduanya duduk disofa dan dia pun memanggil Gina dikamarnya.

“Gina, buka pintunya nak. Ada yang mencari kamu tuh” Ucap Ibu Lastri sambil mengetuk pintu kamar.

“Iya bu, Gina akan kesana” Gina pun membuka pintu kamar nya.

” Ayo cepat mereka sudah menunggu” ucap Ibu Lastri.

Keduanya pun berjalan kearah Teddy dan Helena yang sedang duduk di sofa.

“Helena… Bos Teddy… Ada urusan apa kalian kesini?” Tanya Gina saat memandang kedua.

“Halo Gina” Sapa Helena.

“Halo juga” Balas Gina. Lalu dia dan ibunya pun duduk disofa yang berseberangan dengan Helena dan Teddy.

“Baiklah aku akan langsung saja” Teddy pun menjelaskan maksud nya berkunjung kerumah Gina sama seperti saat dia berkunjung kerumah Helena.

“Jadi apakah kamu ingin bergabung Gina?” Tanya Teddy.

“Jika ibu dan adik ku mendapatkan tempat yang aman di markas aku akan bergabung” Jawab Gina dengan tegas.

“Oh..itu sudah pasti, kami akan menyediakan tempat aman untuk keluargamu di markas” Ucap Teddy.

“Baiklah. Kalau begitu, aku akan bergabung dengan Guardian Star” Ucap Gina dengan keputusan kuat. Ibu Lastri hanya diam mendengarkan mereka berbicara dan tidak melarang anaknya Gina untuk bergabung karena jika dilarang pun dia akan tetap bergabung.

“Baiklah kalau begitu kalian berkemaslah, kami akan menunggu di mobil” Ucap Teddy.

Kemudian Helena dan Teddy pun keluar rumah lalu berjalan menuju mobil. Sedangkan Gina dan ibunya berkemas beberapa pakaian serta barang-barang penting lalu tak lupa membangunkan Leo yang sedang tidur.

30 menit kemudian , semua barang yang dibawa telah dimasukan kedalam bagasi mobil lalu Gina, Ibunya, dan Leo adiknya masuk ke dalam mobil lapis baja yang sama dengan Helena dan Teddy.

“Kita langsung saja kembali kemarkas” Ucao Teddy pada sopir.
Setelag itu ketiga mobil pun meninggalkan area perumahan.

“Baik komandan” Jawab sopir.

“Ibu kita mau kemana?” Tanya Leo pada Ibu Lastri.

“Kita akan pergi tempat aman sayang” Jawab Ibu Lastri dengan lembut.

“Oh begitu ya”

“Setelah sampai dimarkas aku akan menjelaskan tugas-tugas kita di pasukan khusus” Ucap Teddy.

“Iya” Jawab Helena dan Gina serempak.

“Hm…bos, kamu juga salah satu anggota?” Tanya Gina.

“Tidak, aku hanya bertugas merekrut dan anggota Guardian Star baru berjumlah 6 termasuk kalian berdua” Jawab Teddy.

“Begitu ya” Ucap Gina.

“Tentu saja, tunggu saja sampai di markas dan kalian akan tau nanti. Lebih baik kalian tidur dulu, markas masih jauh kira-kira 3 jam perjalanan baru sampai” Ucap Teddy.

Setelah itu semua orang pun diam dan mencoba untuk tidur sebelum sampai markas.

Bersambung….

Pengendali Elemen

Chapter 7: Pertempuran pertama Dwyan

Dwyan pun keluar dari kafe dan berlari menjauh mencari jalan pintas untuk ke tempat kos nya.

“Tunggu saja sampai aku punya kekuatan akan ku panggang kau Elang” Guman Dwyan yang terus berlari bersama beberapa orang.

Sedangkan Gina, dia sedang memandang Elang yang sedang mengamuk di depannya.

Para penduduk yang berada disana berlarian mencari tempat aman dan para polisi sedang mencoba melindungi mereka namun mereka satu persatu meninggal dibawah cakar tajam Elang.

“Tombak es” Sebuah tombak panjang pun tercipta ditangan Gina.

“Mati saja kau” Dia pun melemparkan tombak tersebut kepada Elang.

Elang yang merasakan bahaya dari tombak Gina menghindari nya dengan terbang lebih tinggi dan menghempaskan angin yang deras kearah Gina.

Gina terpental dan menghantam dinding beton.

“Ahg…cogh…” Gina memuntahkan darah dari mulutnya dan merasakan sakit di tubuhnya.

“Sringg” Cahaya kuning keemasan pun menyelimuti Gina dan menyembuhkan luka dalamnya.

“Gina!! Kamu ini ya, sangat ceroboh” Helena memarahi Gina.

“maaf, tapi jika tidak di hentikan maka akan banyak korban” Gina memandang banyak orang yang terluka dan bahkan ada yg meninggal.

“Hah…iya aku paham maksud kamu tapi kamu baru saja membangkitkan kekuatan mu ” Ucap Helena

” Kamu diam saja disini” Gina bangkit lagi dan memandang Elang tersebut dengan tajam.

“Panah es….” Gina melontarkan banyak anak panah es kearah Elang.

“kiakkk” Sang Elang melindungi dirinya dengan kedua sayapnya.

“ting…ting…ting” Anak panah yang dilontarkan Gina hancur saat menghantam sayap elang tersebut.

“Sayapnya bisa menjadi besi” Guman Helena saat menatap serangan Gina gagal.

“kiakkk” Elang tersebut menembakkan beberapa lembar bulu dari sayap nya kearah Gina.

“Waktu berhenti” Bulu dari sayap elang pun berhenti dan Gina ditarik menjauh dari sana.

“blarrr” 4 detik kemudian bulu tersebut menembus aspal sampai berlubang dimana-mana.

“B-bos, kamu punya kekuatan juga” Gina menatap Bos Teddy yang sedang memegang tangannya.

“Lebih baik kita cari tempat aman. Elang itu sangat kuat” Ucap Bos Teddy tanpa menjawab pertanyaan Gina.

“Tidak mau” Gina menarik tangan nya dan menolak ajakan Bos Teddy.

Tak lama kemudian dua jet tempur memasuki area perkotaan dan tanpa melihat ada orang disekitar keduanya menembakkan rudal.

“Bomm…bomm!!!” Bos Teddy, Gina, dan Helena berlari menjauh sebelum rudal ditembakkan sehingga tidak terkena dampak ledakan.

“kiaaak” Elang tersebut menjerik kesakitan dan terjatuh keaspal.

Melihat Elang yang jatuh, Gina mengambil kesempatan menyerang dengan dua tombak es.

“wus…jleb..jleb..” Kedua Tombak tersebut menembus bagian mata dan perut Elang.

“Membeku” Kemudian tubuh Elang pun membeku.

“Akhirnya mati juga” Gina menghapus keringat di keningnya.

Para pilot jet tempur yang melihat Elang yang membeku menghebuskan napas lega dan menatap ketiga orang yang berada tidak jauh dari sana. Saat ini banyak korban jiwa akibat insiden yang terjadi, kemudian mereka pun pergi kembali ke markas.

“Gina, kamu baik-baik saja kan?” Tanya Helena khawatir.

“Tenang saja hanya lecet sedikit” Jawab Gina santai.

“Baiklah, lebih baik pulang ke rumah masing-masing. Untuk pekerjaan di kafe diliburkan sampai situasi nya aman” Ucap Bos Teddy sambil menatap sekitar.

Keduanya hanya mengangguk kan kepala dan berjalan ke rumah mereka sedangkan bos Teddy dia menekan no hp seseorang dan menelpon.

“Dua calon anggota Guardian Star telah kutentukan, setelah ini aku akan kembali kemarkas dan membawa mereka bersamaku” Bos Teddy berbicara kepada yang dia telpon.

“Hehe…kau memang orang yang selalu menyelesaikan tugas dengan baik Teddy” Jawab orang yang di telpon.

“Cukup basa basi nya , aku harus pulang terlebih dahulu dan meyakinkan keduanya” Dia pun mematikan panggilan dan berjalan menjauh dari sana.

Tak lama kemudian beberapa mobil polisi dan ambulan berdatangan dan membawa beberapa korban jiwa dan korban terluka.

Ditempat lain, Dwyan sedang berjalan sendirian disebuah gang sempit kearah tempat kosnya.

“Kurasa elang tersebut sudah teratasi” Guman Dwyan menghela napas lega.

“Cit…cit..cit” Suara gelombolan tikus terdengar.

“Kampreet, firasat ku kagak enak saat mendengar suara tikus” Dwyan berjalan lebih cepat.

“Cit..cit..”

“arghh…tolong” Suara minta tolong terdengar dari gang sebelah.

Di gang sebelah beberapa orang sedang di kerubungi oleh tikus-tikus. Mereka semua dimakan oleh tikus dan hanya menyisakan tulangnya, Dwyan tidak ingin menolong saat ini dia memilih terus berjalan menjauh namun nasib buruk menimpanya. Tepat didepannya gerombolan tikus sedang memangsa beberapa orang.

“Kurasa aku harus cari jalan lain” Saat dia menoleh kiri,kanan, dan belakang ternyata dia sudah terkepung.

” Sepertinya nasib ku memang begini” Dwyan menghela napas dan pasrah akan keadaan nya.

“Cit…cit…” Gerombolan tikus dari 4 arah berlarian kearah Dwyan yang hanya bisa berdiam di tempat.

“Sampai jumpa dunia yang kampret” Dwyan menutup matanya dan gerombolan tikus semakin dekat dengan nya.

“Sringgg!!!” “Blarrr!!!” Sebuah api menyebar keluar dari tubuh Dwyan dan menghanguskan seluruh tikus dari empat arah menjadi abu.

“…..” Dwyan merasakan panas lalu dia pun membuka matanya dan dia menghirup napas panjang saat melihat disekitarnya

“Holy shit!!!, aku punya kekuatan api!!!”Teriak Dwyan saat nyaring.

“Akhirnya aku punya kekuatan” Dwyan lompat-lompat kesenangan dan dia pun akhirnya berhenti.

“Btw, bagaimana caranya aku mengeluarkan apinya?” Dwyan mencoba mengeluarkan api dari tangannya namun hasilnya nihil.

“Njirr lah, kenapa begini sih?? wahai author bikin aku op bangke”Dwyan berteriak kgk jelas.

Saat Dwyan teriak-teriak kagak jelas getaran besar terjadi dan dinding beton rumah runtuh dengan sebuah asap debu yang tebal setelah asap tipis seekor tikus berukuran seperti sapi pun muncul di penglihatan Dwyan.

“Kayaknya ini masalah serius”

“Lari!!!” Dwyan bergegas berlari dari sang tikus.

“Cit…cit” Tikus itu mengejar Dwyan begitu cepat lalu dia melompat dan mendarat di hadapan nya.

“ampun tikus baik, jangan makan aku daging ku alot ” Wajah Dwyan ketakutan.

“CIT!!!” Tikus tersebut mengayunkan cakarnya kearah Dwyan.

” Aaaaa!!” Dwyan berteriak sambil merentangkan tangannya kedepan dan segumpal api mulai terbentuk ditelapak tangannya.

“Blarr!! boom!” Tikus terpental beberapa meter lalu gumpalan api susulan menghantamnya lagi dan meledak dan menabrak dinding lalu terjatuh.

“Cit!!!” Tikus tersebut menjerit kesakitan, lalu dia pun bangkit dan menatap tajam Dwyan.

“Huh…jika kekuatan ini bisa dikontrol sesuka hati dia mungkin sudah mati” Dwyan menatap balik Tikus.

“Cit!!” Tikus menerjang kearah Dwyan dengan cepat

Tanpa Dwyan sadari dia menghindari nya dengan gesit dan menendang pinggang tikus dengan keras.

“Cit!! “Tikus terhempas kesamping.

“I-ini… Apakah kekuatan ku bertambah?” Dwyan menatap dirinya lewat cermin kecil yang sering dia bawa.

Tikus bangkit kembali dan menerjangnya lagi sambil mengayunkan cakarnya.

“Cit!!” “Srett!!” Dwyan berhasil menghindari serangan dengan melompat kesamping dan tanah tempat dia berdiri hancur berantakan akibat cakar tikus.

“Hah…hah…hah…” Dwyan kelelahan dan dia merasa tubuhnya tidak bisa bergerak lagi.

“Bagaimana ini?! ” Dwyan panik dan dia mencoba mengeluarkan api dengan berbagai cara namun api tidak mau keluar.

“Cit!!” Tikus itu bergegas mengayun kan cakarnya saat melihat Dwyan tidak bisa melawan.

“Tenangkan diri” Dwyan menutup matanya.

“Membaralah api di tubuhku” Ucap Dwyan tanpa sadar.

“Blarr!!!” Ledakan api disekitar Dwyan terjadi dan ledakan api tersebut membuat tikus terhempas beberapa meter dan membuatnya terbakar namun dia masih hidup.

“Shit…kenapa dia masih hidup?!” Dwyan menatap tikus dengan marah.

“Akan kubunuh kau” Kobaran api berkumpul di kepalan tangan Dwyan dan dia pun melesat menuju tikus

“Mati!!” “Blarr!!!” Tikus terkena pukulan tepat diperut dan membuat nya mati.

“Hah…hah…” “Brukk” Dwyan tersungkur ke tanah akibat kelelahan dan darah menetes ditangannya saat memukul perut tikus.

“Akhirnya selesai” Dwyan menutup matanya dan sebuah cahaya putih bersinar dari dada kanan nya lalu cahaya tersebut mengarah ke kepala tikus tersebut . Cahaya tersebut seperti menyerap sesuatu dari kepala tikus dan membuat tubuh Dwyan yang kelelahan berangsur-angsur pulih serta luka ditangannya pun menghilang.

“Apa yang sedang terjadi?” Dwyan menatap cahaya tersebut dan merasakan kekuatan asing mengalir kedalam tubuhnya.

Bersambung…

Pengendali Elemen

Chapter 6: Batu Misterius

Dwyan yang sedang bosan dan penuh amarah karena tidak ada yang bisa dia lakukan dan dia baru saja mengalami lose streak sebanyak 7 kali dimode ranked.

“Ahhh!!! team ampas” teriak Dwyan. Dia yang masih tertekan karena masalah yang terjadi tadi dan ditambah lose streak sehingga membuat nya makin frustasi.

Dwyan pun berjalan ke kamar mandi dan mencuci wajahnya lalu dia memandang cermin

“Ternyata wajahku ini lumayan tampan” Pikiran Narsis Dwyan.

(Sfx: cermin retak sedikit)

“Anjirr…sirik aja nih cermin”

Dwyan pun makin kesal karena cermin saja tidak setuju akan ketampanannya, lalu dia memutuskan untuk keluar kos walaupun hari sudah gelap.

~20 menit kemudian~

Dwyan berjalan tanpa arah dan melihat penjual cilok di depannya.

“Cilok kang 5000” Ucap Dwyan

“Oke dek” Kang cilok pun bergegas membungkus cilok.

“Ini dek ciloknya”

“Terima kasih, ini uangnya”

Setelah membeli cilok , Dwyan pun berjalan kearah halte bus lalu dan duduk pada bangku disana sambil makan cilok.

“Malam yang lumayan ramai” Dwyan menatap jalanan yang padat didepannya.

Tanpa dia sadari cilok yang dia beli habis dan dia pun berdiri sambil menoleh kesana kemari untuk menentukan arah untuk perjalanan nya yang ga guna.

“Seperti nya jalan-jalan ke mall asik nih, tapi jauh njirr” guman Dwyan.

“Yasudah, jalan tanpa tujuan aja terserah kemana kaki melangkah” Dia pun berjalan lagi.

Dilangit ada sesuatu yang dikelilingi api dan jatuh dengan cepat mengarah kesebuah kafe.

“Blarrr” Hal tersebut menabrak kafe dan membuatnya terbakar.

“Tolong….tolong…” Para pengunjung berlarian keluar dan ada yang terperangkap didalam.

Dwyan yang tidak jauh dari tempat kejadian pun bergegas kearah kafe tersebut.

“Sial, kenapa ini harus terjadi sekarang?”

“Tolong…hiks…hiks” Suara anak kecil yang terperangkap menangis.

“Jika menunggu pemadam kebakaran bisa mati itu bocah”

Dwyan tanpa rasa takut menerobos kedalam kafe dan berlari menuju anak kecil yang terjebak, dia pun menemukan anak kecil tersebut dan menggendong nya.

“Uhuk…uhuk” Dwyan batuk karena asap semakin tebal.

Dia terus berusaha membawa anak kecil tersebut keluar dan akhirnya dia pun berhasil keluar dengan selamat walaupun wajah hitam karena asap.

“Syukurlah akhirnya selamat.” Dwyan. tepar ditanah sambil menatap langit.

“Mama” Anak kecil tersebut berlari kearah ibunya yg sedang menangis.

“Anakku” Sang ibu pun memeluk anak nya dengan penuh kasih sayang.

Tak lama kemudian pemadam kebakaran pun datang dan segera memadam kan api.

Dwyan bangkit dan menatap sekitar nya, orang-orang memberikan tepuk tangan dan mengucapkan “Kamu adalah pahlawan” kepada Dwyan. Dia hanya menanggapi dengan tersenyum dan berjalan keluar dari kerumunan.

“Kakak tunggu” Anak kecil tersebut berlari menghampiri nya .

“Iya, ada apa?” Dwyan berhenti dan menatap anak kecil tersebut.

“Terima kasih kak, ini untuk kakak. Inilah yang membuat aku terjebak tadi karena aku mengambil ini” Ucap anak kecil tersebut sedikit ketakutan melihat batu hitam berukuran uang koin 500 rupiah. Dia meletakkan batu tersebut ke tangan Dwyan.

“Baiklah, sama-sama dan lain kali jangan melakukan hal ini lagi. Bergegas keluar jika bahaya ada” Dwyan tersenyum menerima batu tersebut dan memasukkannya ke saku bajunya lalu mengusap kepala anak kecil tersebut dan berjalan pergi menjauh dari tempat tersebut.

Dia pun memutuskan untuk pulang ke kosnya untuk mandi karena tubuhnya kotor.

~Skip~

Dwyan baru saja selesai mandi dan setelah itu dia berpakaian kaos serta celana olahraga. Kemudian dia pun merebahkan dirinya ke kasur dan memandangi batu yang dia terima dari anak kecil tersebut.

“Batu apaan ini?” Guman Dwyan.

“Sringgg” Cahaya menyilaukan muncul dari batu tersebut lalu cahaya tersebut menerjang kearah dada bagian kanan nya.

“Arghhh!” Dwyan merasakan rasa sakit disertai rasa panas dibagian dadanya sehingga membuatnya berteriak dengan keras.

“Apakah aku akan mati? Padahal aku belum nikah dan merasakan nikmat dunia” Ucap hati Dwyan.

Cahaya tersebut terus memasuki dada Dwyan dan cahayanya semakin memudar namun rasa sakitnya semakin terasa sehingga dia tidak sanggup menahan sakit tersebut lalu dia pun pingsan.

~Keesokkan harinya~

Kicauan burung serta kokok kan ayam terdengar ketelinga Dwyan dan dia pun membuka matanya.

“Apakah ini surga? kenapa mirip kamar kos?”

“Sepertinya aku kurang beramal baik” Guman Dwyan.

Namun setelah itu dia sadar bahwa dia masih hidup lalu memegang dada bagian kanannya.

“Apa yang terjadi sebenarnya tadi malam?” Pikir Dwyan.

“Dan kemana batu hitam itu hilang” Dwyan pun memejamkan matanya dan tanpa dia sadari dia pun melihat batu hitam tersebut didalam dirinya namun sepertinya tempat batu tersebut bukan didalam organ ditubuh nya namun berada ditempat lain dan dia memperkirakan nya berada dijiwanya.

“Ini seperti novel yang sering ku baca, setelah ini aku pasti akan menjadi kuat dan mendominasi” Ucap Dwyan.

“Waktu nya mandi dan pergi bekerja”

Dia pun bangkit dari kasur dan berjalan ke kamar mandi. Selesai mandi dia pun begegas berpakaian lalu menyeduh mie indomie setelah itu memakannya dan selesai makan dia pun pergi bekerja.

Dia berjalan dengan cepat karena takut telat ke kafe.

“Kiakkk” Seekor Elang berukuran besar menerjang sebuah mobil dan membuat mobil tersebut terpental. Lalu kecelakaan beruntun pun terjadi, sedangkan Elang tersebut terus menghancurkan apapun yang ada disekitarnya.

“Dorr…” Sebuah peluru menembus sayap kiri elang tersebut.

“Bersiap untuk bentrokan” Pasukan polisi berdiri diposisi sambil memegang senjata api dan Elang tersebut mengayunkan sayapnya dengan kuat dan sebuah hembusan angin yang sangat kuat menerjang para polisi sehingga membuat mereka terpental jauh.

“aaaa”

Dwyan yang hampir sampai ke kafe pun menoleh kebelakang dan dia kaget saat melihat pertempuran elang dan para polisi. Dia pun bergegas masuk kedalam kafe dan bersembunyi disana.

“Hei Dwyan, apa yang terjadi diluar?” Tanya bos Teddy.

“Elang raksasa mengamuk bos ” Ucap Dwyan sedikit gemetar.

“Sial, kurasa kita harus keluar dari sini. Elang tersebut pasti akan menghancurkan tempat ini” Bos Teddy tak berdaya karena kafe yang dia buat akan dihancurkan oleh Elang raksasa.

“Hei gina, mau kamana kamu?” Tanya Helena saat melihat Gina keluar kafe.

“Aku akan mengalahkan Elang sialan itu” Ucap Gina dengan wajah datar.

“Hei hei jangan kesana” Helena mencoba menghentikan Gina namun dia tidak mau berhenti dan terus berjalan menuju tempat kekacauan.

“Dasar cewe yang tak tau tinggi nya langit” Guman Bos Teddy.

“Dia sangat ceroboh” Timpal Dwyan.

“Semuanya cepat keluar dari kafe dan menjauh dari area ini” Perintah Bos Teddy.

Para pekerja dikafe pun bergegas keluar dengan cepat kecuali 3 orang yaitu Dwyan , Helena, dan Bos Teddy.

“Kenapa kalian berdua tidak keluar?” Tanya Bos Teddy dengan heran.

“Aku kelelahan bos” Dwyan tepar dilantai.

“Aku akan membatu Gina ” Ucap Helena dengan tegas dan berjalan keluar kafe.

“Kamu sebaiknya pulang yan, kamu hanya manusia tanpa kekuatan. Aku juga akan membantu Gina jd lebih baik kamu pulang dan bersembunyi disana” Ucap Bos Teddy lalu meninggalkan Dwyan sendirian didalam kafe

“Ha?!! Apakah Helena dan Bos punya kekuatan juga? Ini tidak adil kampr*t” Dwyan pun berdiri dan memandang kearah kekacauan.

Bersambung….

Pengendali Elemen

Chapter 5: Libur Kerja

Insiden yang baru saja terjadi membuat banyak orang ketakutan dan mereka segera keluar kafe untuk pulang kerumah masing-masing. Sedangkan untuk para pekerja di kafe, mereka membersihkan kafe.

“Aku duluan ya Helena ” Ucap Gina berpamitan dengan Helena.

“Iya, hati-hati di jalan” Helena tersenyum.

“Dah” Gina melambaikan tangannya dan pergi dari kafe .

” Sepertinya mereka udah selesai bersih-bersih nya” Helena memandang seluruh kafe dan memperhatikan para pekerja yang sedang istirahat.

“hm…sepertinya ada satu orang yang tidak ada di sini” Helena memindai disekitar kafe dan melihat Dwyan sedang mencuci piring di dapur.

“Ternyata dia lagi sibuk ya, biar deh kalau gitu” Helena pun berjalan menuju kamar ganti.

30 menit kemudian bos Teddy keluar dari ruangan nya dan menatap semua pekerjanya.

“Semua terima kasih untuk hari ini ya, sepertinya kafe akan tutup selama beberapa hari untuk renovasi jadi kalian di liburkan untuk saat ini” Bos Teddy menjelaskan kepada semua pekerjanya.

“Iya bos!!” Teriak serentak para pekerja dengan penuh semangat.

“Libur ya, seperti nya aku akan bermalas-malasan di kamar kos” Gumam Dwyan .

“Baiklah untuk hari ini kalian dipersilakan pulang lebih awal ” Ucap Bos Teddy dengan tenang lalu dia berjalan menjauh menuju ruangannya.

Semua pekerja pun mulai berkemas dan berjalan keluar kafe untuk menuju tempat masing-masing. Dwyan baru saja keluar kafe dan memandang area sekitarnya, dia merasa tertekan karena dia sepertinya adalah sasaran empuk bagi orang yang punya kekuatan super.

Dwyan berjalan dengan santai serta kewaspadaan tinggi, dia berjalan melewati sebuah taman bermain dan melihat beberapa anak kecil sedang bermain dengan bahagia. Namun tanpa mereka sadari sebuah mobil van putih berhenti dipinggir jalan dekat taman lalu keluarlah 3 orang berpakaian rapi dan bisa dikatakan mereka sedikit tampan , mereka mendekati anak-anak berumur 8-9 tahun dan berbicara dengan mereka namun sepertinya telah terjadi sesuatu hal yang aneh pada mereka .

“Ikut om yuk , kita jalan-jalan” Ucap Pria 1 dengan senyum hangat.

Namun hanya 3 dari 5 anak yang mengangguk dan kedua anak tersebut terlihat waspada.

” Om mau culik kita ya? ” Tanya anak cewe rambut twintail.

“Teman-teman jangan dengarkan om ini, mereka jahat” Ucap anak cowo berkacamata.

Dwyan yang melihat hal tersebut merasa khawatir dan memutuskan berjalan kearah mereka.

“Hei kalian, apakah tidak ada kerjaan lain selain menculik anak-anak di sore hari yang rada mendung ini?” Dwyan berteriak dengan keras dan membuat orang yang lewat menoleh kearah para pria yang mencurigakan.

” Heh…sepertinya kita akan dikeroyok bos” Ucap Pria 2 kepada pria 1.

“Tenang saja, masih ada dia yang bisa membawa kita kabur” Bisik pria 1 pada pria 2.

“Ayo anak-anak kita berangkat ” Ucap Pria 1 tanpa peduli perkataan Dwyan dan 3 anak mengikuti nya.

“Gunakan kekuatan mu” Perintah pria 1 kepada pria 3.

“baik” Pria 3 memulai menggunakan kekuatannya.

“ber-” Sebelum pria 3 menggunakan kekuatan nya dia terhenti karena anak cewe berteriak sangat keras.

“Jangan pergiiiiiii” Teriak anak cewe begitu keras dan menghasil gelombang kekuatan yang mengarah kepada pria 3.

Pria 3 terhempas kebelakang sejauh 5 m dan dia tidak bisa bangkit lagi karena kuping nya terasa sakit dan seperti nya kupingnya berdarah.

“Tenang , berhenti berteriak” Dwyan menenangkan anak cewe tersebut dan mau berhenti.

“Sial, anak kecil itu mempunyai kekuatan. Ayo kabur!” Pria 1 panik dan mencoba berlari bersama pria 2.

” Penjara es” Namun mereka terperangkap di sebuah balok es tanpa mereka sadari.

” Dasar penjahat” Suara dingin terdengar dan dia adalah Gina yang baru saja menggunakan kekuatannya untuk menahan para penjahat tersebut.

ketiga anak yang seperti nya terhipnotis pun kembali sadar dan berlari kearah anak cewe dan anak cowo berkacamata.

” Aku takut…hiks..hiks” Salah satu anak yang di hipnotis menangis.

“Tenang lah, mereka sudah ditangkap kok” Ucap anak cowo berkacamata dengan lembut dan entah kenapa anak cewe yang tertekan serta ketakutan tadi berhenti menangis dan kembali tenang.

“Hn…sepertinya kalian baik-baik saja kan?” Tanya anak berkacamata pada dua anak kecil yang sedikit gemetaran namun mereka tidak bisa menjawab karena masih trauma.

“Hei berhenti menjadi penakut dan berhenti gemetar para penjahat sudah dikalahkan oleh kaka cantik itu” Ucap anak berkacamata dan kedua anak tersebut pun berhenti gemetar dan ketakutan seperti tidak pernah ada yang terjadi sebelumnya.

“Syukurlah kalian baik-baik saja” Gina berjalan mendekati 5 anak kecil tersebut.

“Terima kasih kak sudah menyelamatkan kami” Ucap mereka dengan serentak.

“Iya , sama-sama. Namun kalian harus berterima kasih juga pada dia jika dia tidak berteriak maka aku tidak akan memperhatikan kalian tadi. “Gina berkata dengan lembut.

“Terima kasih kak” Mereka juga berterima kasih kepada Dwyan yang masih diam ditempat dengan tatapan aneh.

“Sama-sama. Namun kalian sebaiknya untuk saat ini dirumah saja karena para penjahat berkeliaran dimana-mana dan juga untuk kalian berdua gunakan kekuatan kalian dengan benar terutama kamu gadis kecil” Dwyan berkata sambil menunjuk kepada dua anak kecil.

“hah?!! Kekuatan apa kak?” Tanya anak cewe dengan heran.

“Kekuatan mu itu seperti tadi teriakanmu sangat kencang sehingga membuat penjahat itu terpental” Jelas Dwyan.

” Sedangkan kamu kacamata, kekuatan mu itu sangat keren kamu bisa membuat teman-teman mu itu berhenti takut,berhenti trauma dan berhenti menangis seperti nya kata-kata mu itu adalah obatnya” Lanjut Dwyan menjelaskan kekuatan anak cowo kacamata.

“Whoaaa!!!! kita berdua punya kekuatan keren!!!” Teriak keduanya sambil lompat-lompat kegirangan.

” Hm…lebih baik kalian pulang sana” Gina menyela kebahagiaan keduanya dan keduanya berhenti berteriak serta melompat.

“Baik kakak cantik” Mereka berlima pun bergegas pulang dan melambaikan tangan pada Dwyan dan Gina.

“Pengamatan mu tajam juga ya tentang kekuatan mereka” Komen Gina sambil menatap Dwyan.

“Hm…itu bisa di tebak saat mereka menggunakan kekuatan mereka dan terima kasih telah datang tepat waktu” Ucap Dwyan dengan suara rendah saat dibagian akhir kalimat.

“Iya, aku juga akan membantu mereka saat melihat mereka dalam bahaya kok . Hm…sepertinya aku sudah terlambat, aku pulang dulu” Gina berkata tidak seperti biasanya, dia terlihat sedikit riang.

“Iya, sampai jumpa” Ucap Dwyan dengan senyuman.

Mereka pun berpisah dan menuju tempat tinggal masing-masing. Setelah itu mobil polisi pun datang dan membawa ketiga penjahat tersebut, es yang membekukan kedua penjahat mencair dengan mudah nya saat sebuah sinar merah keluar dari mata salah satu polisi dan mereka pun pergi dari tkp.

Sesampainya Dwyan di kos nya dia bergegas mandi dan setelah selesai mandi dia pun makan mie indomie seperti biasanya . Selesai makan dia pun push ranked untuk mengisi waktu luangnya dan membuat otaknya fresh karena insiden-insiden hari ini yang dia alami begitu berat.

Pengendali Elemen

Chapter 4 : Es VS Racun

Gina memandang Perampok 1 dengan jijik

“Itu hanya kebetulan” Ejek Gina kepada perampok 1

“Hehe…lihat saja kekuatan ku, kau akan menyesal telah melawan ku.”

“Peluru racun” Perampok 1 melontarkan peluru racun kepada Gina yang masih berlindung di depan dinding es nya .

Peluru tersebut terus maju walaupun terhalang dinding es dan dinding mulai meleleh karena sifat korosif racun tersebut dan racun tersebut mengarah ke wajah Gina.

“Beku…” Gina dengan cepat membekukan peluru racun tersebut dan peluru racun pun beku lalu jatuh kelantai namun setelah itu esnya meleleh dan memperlihatkan cairan racun membuat lantai berlubang.

“Ini terlalu berbahaya untuk Gina” Dwyan khawatir akan keselamatan Gina.

“Heh…begitu ya” Tiba-tiba suhu udara menjadi lebih dingin.

Gina menatap perampok 1 dengan tajam dan melangkah ke arahnya.

“Cih…gadis kecil , masih terlalu dini untuk mengalahkanku” Perampok 1 terus membual tanpa henti.

” Lantai beku…” Ucap Gina dengan pelan. Lalu seluruh lantai menjadi es dan membuat orang-orang berjatuhan.

” Masih tidak bisa menahanku” Perampok 1 berjalan menuju Gina dengan santai dan setiap langkahnya terdapat racun yang membuat lantai es mencair.

“Peluru racun ” Perampok 1 melontarkan peluru racunnya dan dia sendiri melesat cepat kearah Gina.

” Jarum es…” Gina membalas dengan beberapa jarum es dan membuat peluru racun membeku tanpa bisa mencairkan esnya.

“Tertipu kau, telapak racun ” Perampok 1 entah bagaimana bisa disamping Gina dan dia menamparkan telapak tangannya yang beracun kepinggul Gina.

“Aahhhkk” Gina terpental dan menabrak beberapa meja dan kursi , bagian pinggul nya terkena racun.

“Beku…” Gina membekukan racun dipinggul agar tidak menyebar.

“Kamu harus mati” Gina bangkit dan menatap perampok 1 dengan penuh amarah.

“Hahaha…dasar lemah” Perampok 1 tertawa bangga.

“Waktu berhenti ” Tiba-tiba waktu terhenti.

“Jleb..jleb..” Dua pisau menembus jantung perampok 1 tanpa dia sadari karena berhentinya waktu.

“Dasar pengganggu” Gerutu pelaku utama yang tidak lain adalah bos Teddy. Dia pun kembali ke ruangannya.

Beberapa saat kemudian waktu berjalan normal lagi.

“Brukk” Tubuh perampok 1 ambruk ke lantai dan tubuhnya sudah tidak bernyawa lagi.

Semua orang yang menatap hal tersebut kaget dan bertanya-tanya apa yang baru saja terjadi.

“Hn…sepertinya aku tau kekuatan macam apa yang bisa seperti ini. Karena tadi aku merasa tubuh ku berhenti berfungsi maka kekuatan tersebut pasti penghenti waktu”

“Gina!!” Seru Dwyan baru ingat akan keadaan Gina lalu dia pun berlari menuju ke arahnya.

“Gina bagaimana racun ditubuh mu?” Tanya Dwyan dengan khawatir.

“Hn…untuk saat ini masih aman karena racun nya telah membeku tapi untuk kedepannya aku tidak tau” Jawab Gina dengan dingin.

“Permisi…minggir..minggir” Helena menerobos kerumunan dan berjalan kearah Gina.

“Gina ikut aku” Ucap Helena dan tanpa menunggu Gina berbicara dia menariknya ke kamar ganti pekerja.

“Semoga saja dia baik-baik saja ” Dwyan membereskan setiap kursi dan meja yang rusak.

“wiuuuu…wiuuu” Sebuah mobil polisi berhenti Di depan kafe dan 2 polisi memasuki kafe.

” Bisa di jelaskan apa yang baru saja terjadi?? ” Tanya seorang polisi pria yang muda dan tampan sambil memperhatikan keadaan disekitar serta memandang 3 tubuh tanpa nyawa yang dia duga perampok yg dilaporkan beberapa saat yang lalu.

Sedangkan polisi wanita hanya berdiam dibelakang polisi pria tanpa berkata apapun.

“Dwyan bawa para polisi t
kedalam ruangan ku” Suara Bos Teddy terdengar dari dalam ruangan.

“Mari aku antar ke tempat Bos” Dwyan mengantar kan kedua polisi tersebut ke ruangan bos lalu dia pun keluar ruangan untuk melanjutkan bersih-bersih dengan pekerja yang lain.

Di kamar ganti

Gina sedang berbaring menyamping dan Helena sedang meletakkan kedua tangannya dipinggul Gina.

“Sembuhkan” Cahaya kuning keemasan membungkus kedua tangan Helena dan membuat racun ditubuh Gina mulai memudar.

“Helena… kamu?!!” Gina sedikit terkejut akan perasaan racun yang menghilang dari tubuhnya.

“Iya, aku mendapatkan kekuatan ini tadi malam dan rasa sakit yang harus ditanggung begitu keras.” Jawab Helena dengan senyum manis.

“Terima kasih” Gina duduk dan memeluk Helena dengan erat.

“Sama-sama” Ucap Helena dengan lembut.

“Aku sudah tidak memiliki keluarga dan hanya kamu yang ada untuk ku jadi aku akan selalu membantu disamping mu Gina” Jelas Helena lalu membalas pelukan Gina.

” Kamu adalah kakak ku Helena” Ucap Gina dengan lembut tanpa ada nada dingin.

“Tok…tok..tok..tok” Ketukan pintu membuat mereka melepaskan pelukan.

” Gina , Bos Teddy memanggil mu ke ruangan nya” Suara salah satu pekerja pria memberi tau Gina dari luar.

“Iya , tunggu sebentar aku ganti baju dulu” Gina pun berjalan menuju lokernya dan mengganti baju nya yang telah koyak karena racun. Dia pun memakai baju longgar dengan lengan panjang.

“Aku pergi dulu Helena” Gina keluar kamar ganti dan berjalan menuju ruangan bos Teddy.

“Tok tok tok” Gina mengetuk pintu

” Silakan masuk Gina” Ucap Bos Teddy mempersilakan masuk.

Gina pun membuka pintu lalu masuk kedalam ruangan dan menutup pintu kembali. Dia melihat dua polisi yang sedang duduk di sofa.

” Silakan duduk”

“Iya” Gina pun duduk di sofa sebelah.

“Hn… Gina kan? boleh pinjam tangan mu? ” Tanya polisi wanita.

“boleh” Gina menyodorkan tangan kanannya kepada polisi wanita.

Polisi wanita tersebut memegang tangan Gina dan dia pun memejamkan matanya lalu 15 menit kemudian dia membuka matanya dan melepaskan tangan Gina.

“Oke, kasus telah selesai dan kamu terbukti melakukan tindak keadilan. Tunggu saja sertifikat mu nanti ya, ketiga mayat perampok itu akan kami bawa untuk diperiksa ” Ucap polisi wanita dengan senyuman.

“Sepertinya tugas kami telah selesai, terima kasih atas kerja sama nya maka kami akan pamit saja” Polisi pria pun bangkit lalu menjabat tangan Bos Teddy.

Kedua polisi itu pun keluar ruangan lalu mengangkut ketiga mayat kedalam mobil dan pergi dari kafe.

“Gina, bagaimana perasaan mu sekarang?” Tanya bos Teddy sambil memandang Gina.

“Sudah agak baik” Jawab Gina dengan menunduk.

“Begitu ya, sepertinya ada yang telah menyembuhkan mu” Ucap Bos Teddy.

“Eh..bagaimana bos tau?” Tanya Gina dengan bingung.

“Hehe…Tentu saja tau, Helena itu keponakan ku dan saat dia mendapatkan kekuatannya dia panik lalu menelpon ku dan menceritakannya padaku jadi bagaimana aku tidak tau?” Jelas Bos Teddy.

” Begitu ya. Hn…bos, apakah yang membunuh si racun itu bos??” Tanya Gina menatap bos Teddy.

” Bagaimana bisa aku yang melakukannya?
sedangkan aku hanya di ruangan ini sambil mendengarkan lagu. Mungkin ada salah satu pekerja yang mempunyai kekuatan seperti kalian dan membantu mu saat itu” Bos Teddy meminum teh nya.

” Begitu ya, kalau begitu aku pamit dulu Bos” ucap Gina.

” Oke, kamu bisa pulang jika merasa lelah” Saran Bos Teddy.

“Iya, terima kasih bos” Gina pun keluar ruangan dan menuju loker untuk mengambil tasnya.

“Fyuh..hampir saja ketahuan” Bos Teddy menghela napas lalu melanjutkan mendengarkan lagu sambil menghitung kerugian yang dia terima saat ini.

Pengendali Elemen

Chapter 3 : Tiba-tiba sebuah kekuatan aneh bangkit dari setiap orang

Selasa, jam 10 pagi

Dwyan masih tidur dikasur nya yang empuk dan sebuah suara ketokan yang berasal dari pintu terdengar sehingga membuat dia membuka mata dengan enggan.

“Dwyan bangun, hari ini sudah jatuh tempo. bayar uang sewa” Ucap seorang wanita berparas cantik walaupun sudah berumur 38 tahun namanya Desi Haryanti.

“engghh…iya ibu kos, tunggu sebentar aku cuci muka dan sikat gigi dulu” Jawab Dwyan dengan cepat dan bergegas cuci muka serta sikat gigi selama 3 menit lalu membuka pintu.

“hm….ini bu uang sewa nya” Dwyan menyerahkan 2 lembar 100 ribu 1 lembar 50 ribu dan 3 lembar 10 ribu.

” Nah gini nih yang paling aku suka, kamu selalu tepat bayar uang sewa nya. Oh iya, ini buat kamu sayur asem sama nasi” Ibu kos memberi rantang kepada Dwyan.

“hehehe…tau aja ibu kos ini kalau aku sudah lama gak makan nasi. Terima kasih bu” Dwyan menerima rantang tersebut dan mengucapkan terima kasih.

“yaudah, aku masih mau menerima uang sewa yang lain dulu ya. ” Ibu kos pun berjalan menjauh dari tempat Dwyan.

“Hehe…ini Sungguh nikmat” Dwyan pun masuk kedalam kos dan menutup pintu dan duduk untuk menyantap nasi + sayur asem.

Dalam sekejap semua nya habis sampai tidak ada yang tersisa lalu dia mencuci rantang tersebut dan duduk sambil nge ranked.

“Gue atas ya pake zilong” Ucap Dwyan lewat speaker.

“Oke bos” Salah satu team nya menjawab.

“You has been slain” Hero Dwyan mati gara-gara dikeroyok minion dan di ulti balmon.

“Kamprett” Dwyan marah dan memutuskan afk.

“Bodo amat dah” Dwyan pun keluar kos dan melakukan olahraga dimulai dari peregangan tubuh lalu jogging di sekitar kos yang luas lalu push up 100×, sit up 100 ×, dan pull up 50 × .

“1…3…5…10…..” Dwyan sedang menghitung uang didalam dompetnya yang tersisa.

“hah…lumayan lelah juga sehabis olahraga dan uang ku sepertinya masih cukup untuk bulan depan sampai gajian datang.” Gumam Dwyan sambil memandang isi dompetnya.

Dwyan pun masuk kedalam kos an nya lalu mandi untuk menyegarkan diri. Selesai mandi, dia menyalakan tv dan melihat siaran berita.

“Eh…bukannya itu pembawa berita kemaren yang kesakitan itu?” Ucap Dwyan bingung saat memandang siaran berita yang dibawakan pembawa acara yang kesakitan tadi malam.

“Penemuan baru dari radiasi yang terpapar pada beberapa orang telah diketahui yaitu mereka yang terpapar tiba-tiba merasakan tubuh mereka dipenuhi oleh sebuah kekuatan yang tidak biasa contohnya seperti ini” Pembawa acara tersebut membuat kuku tangannya menjadi runcing seperti cakar binatang buas.

“Namun kekuatan yang diterima berbeda-beda dan mereka yang mempunyai kekuatan tersebut telah diamankan oleh pemerintah diberbagai dunia namun di Indonesia pemerintah masih diam akan hal ini dan belum mengambil tindakan, dikhawatirkan kekuatan tersebut akan di salah gunakan oleh orang yang tidak bertanggung jawab dan mencelakakan banyak orang. Sekian dari saya” Dwyan pun mengubah channel dan berhenti di channel yang sedang menampilkan kartun tom and jerry.

“Ini semakin kacau saja, semoga ayah sama ibu baik-baik saja” Dwyan bergegas menelpon ibu nya dan menanyakan kabar serta keadaan di desa setelah menerima jawaban bahwa di kampung masih aman dan tentram Dwyan menutup panggilan.

“baguslah kalau ayah dan ibu baik-baik saja” Dwyan pun menghabiskan waktunya sambil menonton kartun.

Waktu terus berjalan dengan semestinya dan Dwyan memandang layar Hpnya yang sedang menampilkan video orang-orang dengan kekuatan supernya.

“bipp…bipp…bipp” Alarm Hp pun berbunyi dan membuat Dwyan mematikan video lalu mulai bersiap untuk pergi bekerja.

Diperjalanan menuju tempat kerja dia memaksimalkan kewaspadaannya karena dia merasa bahwa dengan kekuatan yang cukup kuat pasti ada saja yang menggunakannya untuk kejahatan dan untungnya dia sampai di tempat kerja dengan selamat.

Dwyan memasuki kafe dan menyapa setiap pekerja dengan ramah walaupun kadang di balas dengan Dingin,sinis,dan bahkan diabaikan.

“Hei bos, sehat aja kan?” Sapa Dwyan kepada bos nya.

“Baik kok yan, seperti nya kamu masih bersemangat seperti biasa”

“Hehe…tentu saja bos”

“Silakan bekerja ” Bos Teddy pun seperti biasa memasuki ruangan nya.

“Waktunya kerja” Dwyan pun memulai pekerjaannya seperti biasa.

Di dalam kantor Bos Teddy, dia sedang melakukan sesuatu.

” Berhenti ” Dia membuat kertas yang dia lempar berhenti di udara.

” Fyuh…akhirnya bisa juga berhenti” Bos Teddy ternyata sedang mencoba kekuatan yang baru dia dapat setelah tubuh nya merasa terbakar dan kesakitan ternyata dia bisa menghentikan waktu walau hanya sebentar.

“Seperti nya durasi nya akan bertambah jika terus dilatih ” Pikir Bos Teddy. Lalu dia terus melatih kekuatan barunya.

Di luar ruangan bos , para pekerja sedang sibuk melayani para pelanggan yang berdatangan.

Namun tak lama kemudian 3 orang berpakaian hitam dengan topeng layaknya perampok memasuki kafe.

” Serahkan semua harta benda kalian atau kalian mati!!!” Teriak perampok 1 sambil mengarahkan pisau nya kepada para pelanggan.

“Ayo cepat !! ” Desak perampok 2.

” Pergi dari sini ” Ucap suara dingin dari belakang kerumunan dan sebuah hawa dingin menyebar disekitar.

” Gina?! apa yang sedang dia lakukan? apa dia mau mati??” Pikir Dwyan yang memandang dari jauh.

“Heh?? Cewe lemah seperti mu mengusir kami? mati saja lah, tangkap dia dan sebelum mati jadikan dia budak kita hahaha!!!” Perintah perampok 1 dan perampok 2 menghilang dari tempat dia berdiri lalu mencoba menangkap Gina.

“Beku…” Ucap Gina pelan. Lalu tubuh perampok 2 pun membeku seperti patung es.

“Dia mempunyai kekuatan es?!” Ucap Dwyan dengan takjub saat memandang Gina.

“Sial dasar lemah, hajar dia” Perampok 3 berubah menjadi sedikit besar dan memiliki sebuah tanduk seperti banteng lalu berlari dengan mengarahkan tanduk nya kearah Gina.

“Lantai es….dinding es” Gina pun membuat lantai beku dan dia melindungi dirinya dengan es yang tebal.

Perampok 3 terus berlari walau hampir terpeleset dan menabrak dinding es Gina. Dinding es tersebut bahkan hanya tertembus sedikit namun tidak hancur.

“Beku” Perampok 3 pun membeku dan menjadi patung es.

“Sialan, seperti nya aku harus melawan nya”
Perampok 1 pun melepaskan sarung tangan nya dan menatap Gina dengan tajam.

“Pisau es” Gina pun melemparkan pisau es kepada perampok 1.

“ini masih lemah” Perampok satu dengan santai nya menangkap dan menghancurkan pisau tersebut namun kekuatannya lah yang paling menakjubkan yaitu dia menggunakan racun!!!